Aug
14
2008

Reuni Perak Perunggu usai sudah.

Perhelatan besar yang digelar selama dua hari itu telah begitu banyak menghabiskan energi dan bahkan biaya yang tidak sedikit. Tetapi, sukses yang diraih acara tersebut telah menghapuskan segala keletihan yang selama ini dialami oleh rekan-rekan panitia.

Tidak kurang, ucapan terima kasih, penghargaan, dan acungan jempol telah disampaikan kepada panitia. Baik dari para guru, asisten, pihak sekolah, lebih-lebih para peserta reuni yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Sulit melukiskan kegembiraan, rasa haru, tangis, canda ria, kangen-kangenan di antara mereka.

Hari Pertama, Sabtu 9 Agustus 2008.

Acara reuni dibuka dengan sebuah event ‘Business Meeting Session’. Sebuah acara yang digagas Didiet (82) dan beberapa teman dari Sabah Malaysia. Topik yang dibicarakan adalah topik yang sangat menarik bagi banyak kalangan alumni. Yakni peluang bisnis, baik di bidang pertanian, ‘research and development’, peluang export komoditi bunga potong, perdagangan (trading), properti, bahkan IT (Teknologi informasi). Hebat dan luar biasa

Malam Renungan
Pasca business meeting, digelar acara Malam Renungan. Suasana diciptakan bernuansa ‘garder party’. Meja-meja dan kursi ditata di taman bougenville yang indah itu (tempat bersejarah itu). Suasana malam yang cerah, menimbulkan nuansa romantis di antara kami. Siapa menyangka, acara yang diawali dengan suka cita, saling canda dan gembira berpuncak pada banjir air mata.
Puisi dibawakan oleh salah seorang di antara alumni, ditutup dengan orasi yang menggetarkan kalbu. Sebuah kontemplasi dikemas begitu apik, sehingga menimbulkan suasana haru tiada hingga.

Napak Tilas itu…
Acara napak tilas diikuti secara antusias oleh para alumni, meskipun mereka harus berkumpul di lapangan upacara pada jam 6.00 pagi (persis seperti jaman praktek dulu). Ratusan peserta berjalan mengikuti route yang dipandu panitia. Tempat-tempat bersejarah dilalui dengan celoteh ringan dan penuh keakraban. Kandang ternak memang tinggal bangunannya saja, tidak ada lagi penghuninya. Nama memori kembali terbangkitkan ketika kita semua pernah bertugas untuk membersihkan kandang-kandang itu. Di gudang tengah masih banyak serpihan kenangan yang tersisa. Pohon kopi, kakao, cengkeh, glirisidia, albizia …
Dan kami menikmati itu..

Prosesi Apresiasi Guru
Tidak satupun di antara guru yang menyangka bahwa mereka diperlakukan begitu hormat, begitu agung. Guru ditempatkan secara khusus, dijemput, dikalungi bunga dan diprosesi dengan upacara adat. Dari titik itu saja suasana sudah begitu haru, dan mulailah air matapun menetes.

Talkshow PK-SPMA
Talkshow acara Penghidupan Kembali SPMA memiliki tempat sendiri di acara Reuni ini. Acara ini merupakan salah satu puncak dan penentu keberhasilan acara reuni secara keseluruhan. Dan talkshowpun berhasil…. sangat. Selamat untuk tim PK-SPMA.

Door prize.
Ga nahan … Cemerlang pokoknya ide door prize ini. Dia bukan saja bikin orang bertahan sampai reuni berakhir, tetapi kita semua orang gembira dan deg-degan. Siapa yang ga mau… hadiah utamanya sepeda motor.

Rita Sugiarto
Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba ruang aula dibuat heboh oleh kehadiran penyanyi dangdut terkenal, Rita Sugiarto.
Konon, Rita Sugiarto teman dekat dari salahsatu alumni angkatan 81 (Indra dan Budi). Dan aulapun terkena daya magis Rita, tidak kurang Primus (pria mushola)

Rame-rame tanam pohon
Di penghujung acara, sebelum door prize. Diadakan acara penanaman pohon langka. Sejumlah tanaman langka telah disiapkan panitia. Lagi-lagi heboh, semua turun ke lapangan. Karena setiap angkatan, guru, himni, temen2 Sabah dapat bagian tanam pohon. Yang tidak kalah seru, mereka bukan saja tanam pohon tapi langsung ‘mejeng’ dan numpang keren berfoto bersama dekat pohon yang ditanam. Siapa tahu ada CLBK….

May
8
2008

by Novie

Sesungguhnya aku selalu berada di situ,
menemanimu merajut mimpi-mimpi.
Binar matamu berkejaran dengan angan,
sebelum akhirnya kau sematkan harapan itu dibahuku.
Aku hidup. Aku waktu. Yang berjalan berdampingan
bersamamu.

Dan kala engkau tumbuh dalam khayal dan imaji keajaiban,
masih di sampingmu, aku berharap kau melangkah.
Untuk kemudian berlari, sejauh kaki membawamu.
Meraih, sejauh jemari mengijinkanmu. Mengejar
segala cita, tanpa takut berpeluh. Tanpa takut mengaduh

Maka, menggeliatlah dari tidurmu saat mentari datang
membuka hari. Tersenyum dan mulailah melangkah bersamaku
menjemput segala keinginan hati. Jangan terus berdiam agar
tak menyesal nanti.

Sebab aku hidup. Aku waktu.
Dan hidup tak bisa menunggu.

Apr
5
2008

Nina Solvia **)

PENDAHULUAN

Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang membentang di daerah khatulistiwa yang luasnya lebih dari 8.000.000 km persegi, ditumbuhi oleh lebih dari 6.000 jenis anggrek spesies dan lebih dari 200 jenis mempunyai nilai komersial. Jumlah terbanyak ialah Dendrobium yang tumbuh di daerah panas, tumbuh didaerah Indonesia Bagian Timur, dan merupakan induk induk bunga anggrek potong jenis Dendrobium. Dan sudah banyak hibrida-hibrida Dendrobium yang telah dihasilkan dan didaftarkan ke Sander List (Santoso S, 1988).

Berbagai jenis anggrek Dendrobium sangat diminati oleh masyarakat, karena menghasilkan bungan yang cantik dan warna yang menawan. Disamping itu mahkota bunganya tidak mudah rontok, dibandingkan dengan jenis anggrek lainnya

Tanaman anggrek Dendrobium bersifat kospolitan (dapat dijumpai dari daerah tropik sampai sub tropik). Penyebaran anggrek ini mulai dari daerah pantai hingga daerah pegunungan dan bersalju, yang tersebar mulai dari India, Srilangka, China Selatan, Jepang ke Selatan sampai Asia Tenggara hingga kawasan Pasifik. Australia, New Zealand serta papua New Guinea (Hawkes, 1965; Gunadi, 1979; Rentoul, 1982).

Cara hidup anggrek Dendrobium adalah menempel pada benda lain seperti batang pohon, lempengan pakis, beberapa jenis ada yang bbatu batuan di lereng pegunung, dan ada juga yang tumbuh memanjat pada batang tanaman lain tanpa merugikan tempat yang ditempeli (bersifat epifit). Sedangkan pola pertumbuhannya simpodial

Penggunaan anggrek Dendrobium selain dapat digunakan sebagai bunga potong untuk rangkaian, juga dapat digunakan sebagai bunga pot dan bunga taman untuk pembuatan landscape
anggrek_efifit.jpg

MENGENAL AGGREK DENDROBIUM
Klasifikasi 
Pada umumnya klasifikasi tanaman anggrek didasarkan pada keistimewaan bunga, khususnya alat reproduksi. Klasifikasi anggrek Dendrobium adalah sebagai berikut (Hsuang Keng, 1978; Fanfani dan Rosssi, 1989):

Kingdom         : Planthae

Divisi              : Spermatophyta

Sub Divisi       : Angiospermae

Kelas               : Monocotyledonae

Ordo                : Orchidales

Famili              : Orchidaceae

Sub famili        : Epidendroidae

Suku/Tribe      : Malaxideae (Dressler & Dodson, 1960)

                          Epidendreae (Comber, 1960)

                          Dendrobieae (Chan et al., 1994)

Sub tribe          : Dendrobiinae

Genus              : Dendrobium

Species            : D. bifalce, D. macrophyllum, D. phalaenopsis dll

 

Genus  Dendrobium
Genus angrek Dendrobium terbagi dalam beberapa seksi dan sangat bervariasi. Menurut Holtum (1965) genus Dendrobium terbagi dalam 20 seksi yaitu: 1.  Diplocaulobium
2.  Desmotrichum
3.  Sacopodium
4.  Bolbidium
5.  Euphlebium
6.  Latourea    à bunga  besar, warna hijau/kuning hijau
7.  Callista8.  Eugenanthe
9.  Nigrohirsutae
10. Phalaenanthe  à bunga besar & bulat,  w.  putih / ungu
11. Ceratobium     à bunga bintang / keriting / tanduk ,  w. variasi
12. Stachyobium
13. Pedilonum
14. Distichophyllum
15. Rhopalanthe
16. Aporum
17. Oxystophyllum
18. Strongyle
19. Grastidium
20. Conostalix                       

[Tulisan selengkapnya (format PDF) klik di sini]

Apr
3
2008

Menara SPMA.. Taman Bougenville, dan Kenangan yang Tak Pernah Hilang  

Oleh :  Eko Supriyanto *)

 angkatan841.png

Ketika pada hari kamis tanggal 18 Desember 2003 datang ke Gedung SPMA dalam rangka undangan reuni 100 tahun pendidikan pertanian di Bogor, yang pertama kali saya lakukan adalah melihat menara.

Menara?

Ya. Kedengarannya mungkin aneh, tapi itulah kenyataannya.

Salah satu bagian dari gedung SPMA yang selalu membuat saya kangen adalah menara itu, yang tegak menjulang seperti menusuk langit. Ujungnya yang runcing agak bengkok. Mungkin terkena petir, mungkin karena memang sudah tua, dan itu tidak menjadi masalah benar. Duapuluh tahun lalu sekali lagi, DUAPULUH TAHUN YANG LALU pada saat saya masih aktif bersekolah di situ, menara itu merupakan salah satu kebanggaan yang ada. Dan itu tidak berubah sampai sekarang.

Bentuknya mengingatkan saya pada menara gereja. Malah saat pertama kali datang ke SPMA malah saya kira memang gereja. Atau setidaknya bekas gereja. Pilar-pilar persegi berukuran besar, lorong ruangan (koridor) yang dikombinasikan dengan banyak jendela untuk sirkulasi udara, dan ornamen batu kali yang sangat menonjol. Semuanya masih tampak sama seperti duapuluh tahun sebelumnya. Barangkali masih tampak sama sejak berdiri seratus tahun lalu.

Menara itu, dulunya mungkin dilengkapi dengan lonceng kalau mengingat adanya lubang semacam cerobong asap di bawahnya. Meskipun selama saya di sana tidak pernah terdengar bunyi lonceng dari menara, hal itu tidak pernah saya pertanyakan benar.

Saya senang dengan bentuknya.

Sering menara itu saya pandangi lama-lama. Keberadaannya memiliki daya magis yang kuat. Seperti memiliki daya tarik yang membuat kita selalu menoleh ke sana setiap kali melewatinya. Begitu kuatnya pesona menara itu sehingga saya tak pernah ragu membuat sketsanya di kiri atas amplop, di halaman belakang buku pelajaran, atau di mana saja saya punya alasan untuk menggambarkannya.

Pada saat aktif mengurusi majalah dinding (antara tahun 1982-1983), sketsa menara tak pernah bisa dipisahkan dari lembar editorial. Selalu terpampang di sudut paling kiri atas. Selalu merebut perhatian di antara gambar atau artikel lainnya. Kadang saya berpendapat menara SPMA merupakan landmark di kawasan Cibalagung. Sama seperti Tugu Kujang di pertigaan Jalan Otista. Sama seperti Tugu Monas di Jakarta.

Bertahun-tahun setelah lulus dari SPMA, saya tetap tidak pernah bisa melupakannya. Kalau kebetulan sedang melintasi Ramayana pusat sayur mayur dan buah-buahan yang kini menjadi Bogor Trade Mall itu saya akan menyempatkan naik ke lantai paling atas hanya untuk berdiri mengagumi menara SPMA yang bersaing dengan kemegahan Gunung Salak. Kalau sedang berkendaraan melintasi Jalan Paledang, saya tak akan lupa untuk melihat ke arah kiri, berusaha menemukan menara itu berdiri gagah di antara pemukiman yang kain hari kian padat.Kehadiran menara itu sangat jelas terlihat apabila kita berdiri atau duduk-duduk di Taman Bougenville. Itu sebutan untuk halaman luas di samping ruang belajar yang tidak ditanami rumput tapi ditutup dengan ubin teraso berukuran besar. Di sisi yang berseberangan terdapat bangku-bangku panjang juga dari teraso. Di sisi tiap bangku ada pot besar yang ditanami pohon bougenville. Dahannya menjalar di semacam rangka besi yang menaungi bangku, membuat bangku menjadi terlindungi.

Taman Bougenville, begitu saya menyebutnya.

Bunganya yang berwarna-warni merah, oranye, putih menjadi pemandangan indah pada saat mekar. Jika kita datang pagi-pagi sekali harus lebih dulu sebelum tukang sapu guguran bunga yang berserakan di atas taman mengingatkan pada central park di luar negeri. Mengingatkan pada gambar-gambar indah pada kalender.

Kita bisa duduk-duduk di Taman Bougenville sambil memandang menara yang gagah menjulang di latar belakang.

Betapa romantisnya.

Taman Bougenville barangkali merupakan tempat favorit bagi siswa-siswa SPMA. Tempat duduk-duduk sebelum pelajaran dimulai. Tempat mengisi jam istirahat siang dengan mengobrol atau bercanda. Tempat menghapal ulang pada saat menghadapi ujian. Tempat tidur siang bagi yang malas pulang. Dan hmm, ini yang paling populer tempat berpacaran pada sore hari.

Rasanya tak ada pasangan yang tidak pernah berpacaran di Taman Bougenville.

Rasanya tak ada yang tidak bisa dikenang dari Taman Bougenville.

Sering saya duduk-duduk di bangku taman sambil menatap menara dan bertanya kepada diri sendiri, Apa saja yang sudah disaksikan menara itu di sini?

Menara itu diam saja.

Seperti tidak tertarik untuk menceritakan kesaksiannya kepada orang lain. Padahal selama seratus tahun berdiri di depan Taman Bougenville, dia telah banyak menyaksikan keceriaan dan senda gurau siswa-siswa SPMA. Dia menjadi saksi bisu kenakalan-kenakalan, pertemuan-pertemuan rahasia, pertengkaran dan tukar pendapat, pembicaraan politik, diskusi ilmiah, atau kemesraan khas remaja. Kalaupun bisa berbicara, barangkali dia hanya akan tersenyum. Senyumnya pun mungkin malu-malu saat mengenang kembali hal-hal manis yang pernah dilihatnya di Taman Bougenville.

Menara SPMA dan Taman Bougenville.

Sampai sekarang saya tidak pernah bisa melupakan keduanya. Melihat keduanya seperti menelusuri kembali potongan-potongan masa lalu yang tercecer. Seperti mengaduk-aduk kembali suka dan duka selama bersekolah di SPMA. Seperti mencampur kembali rasa bangga dan rasa haru yang pernah ada.

Kalau nanti ada kesempatan ke SPMA lagi, hal pertama yang saya lakukan adalah melihat apakah menaranya masih gagah dan Taman Bougenvillenya masih romantis. Saya tetap akan melakukan walau sedikitpun tak ada keraguan bahwa menara SPMA akan selalu tampak gagah dan Taman Bougenville akan selalu tampak romantis.

Saya tidak pernah malu untuk mengakuinya. Barangkali karena setelah keluar dari SPMA saya tidak pernah menemukan menara yang lebih gagah dan taman yang lebih romantis. Itulah sebabnya saya akan selalu merindukan keduanya. Sampai kapan pun.

However and forever .

 

*) Eko Supriyanto, alumni SPP-SPMA Negeri Bogor tahun 1984, Redaksi Majalah Dinding Colocasia tahun 1982-1983 dan Sekretaris Osis tahun 1983, kini praktisi di bidang kehutanan dan sejak akhir 2006 bekerja di Kalimantan Tengah

 

Mar
11
2008

gerbang.jpgKita tidak pernah kehilangan kebanggaan terhadap kampus kita SPMA Bogor.

Gedungnya dari kejauhan masih nampak kokoh berdiri, anggun, megah dan artisitik. Loncengnyapun masih tetap menjulang, dengan bagian lancipnya tetap miring. Saya tidak tahu apa karena sengaja dibuat miring?

menara.jpgDi kiri kanan masih nampak rumput hijau menghampar. Taman bougenvil masih tetap indah. Tidak sulit melukiskan sebuah tempat yang begitu penuh sejarah, penuh kenangan dan romantika.
Tapi hidup harus terus berjalan… Dan SPMA kini sudah tak ada, dia digantikan oleh adiknya yakni APP (Akademi Penyuluhan Pertanian) dan sekarang STPP (Sekolah Tinggi Pendidikan Pertanian)

Dari waktu saja kita sudah akan tahu bahwa semua hal di dunia ini akan berubah. Yang muda menjadi tua, dan yang tua akan renta. Dan akhirnya mati. Secara fisik semua makhluk akan mati, tak terkecuali kita.

Fisik bisa mati, tetap nilai yang dibawanya masih bisa hidup abadi. Bahkan sebuah nilai dapat langgeng adanya.
Lantas nilai-nilai apakah yang diturunkan oleh sebuah institusi pendidikan yang bernama SPMA ?

musholla.jpgBanyak, lebih dari hitungan jari tangan kita.
Sebut saja kemandirian,  kedisiplinan, kesederhanaan, kekompakan, kebersamaan, kecerdasan, keuletan, kesiapan bekerja, kemampuan beradaptasi, kemampuan menyatu dengan alam, dsb, dsb.

Saya tidak pandai mengurai satu demi satu nilai-nilai tadi, tapi rasanya nilai tersebut menghujam pada masing-masing diri kita sebagai lulusannya.
Sebut saja kehidupan asrama atau kost di seputar kampus adalah sebuah sistem yang melahirkan kemandirian. Ketika seorang anak lulusan SMP harus hidup jauh dari orang tuanya dengan segala keterbatasan yang ada.

halaman_tengah.jpgPraktek lapang: mencangkul, membuat guludan, membuat bedengan, menanam, menyiang, memupuk, dan bahkan membersihkan kandang sapi dan kambing adalah sebuah nilai kedisiplinan. Lebih-lebih semua mesti dilakukan sejak pagi buta, jam 6.00 pagi kita harus sudah ada di sawah, kebun atau di kandang.

Ketika semuanya perlahan berubah, adakah nilai-nilai tadi masih tersisa?

 

Mar
8
2008

Secercah harapan untuk petani dari Sebuah Fragmen Entahlah

Roy, 25 Februari 2008


organik.jpgTulisan ini diilhami melalui Rubrik Humaniora pada halaman 14 Harian Kompas tanggal 19 Februari 2008 yang menampilkan judul PERTANIAN ORGANIS: Bukan Hanya Soal Sertifikat oleh ST SULARTO.
Artikel ini penulis sadur sebagai sumber tunggal ditambah sedikit improvisasi dibeberapa tempat untuk menjawab coretan berjudul Sebuah Fragmen Entahlah pada situs http://spmabogor.net   
Masyarakat umumnya lebih mengenal Pertanian organik sebagai pertanian ramah lingkungan yang diakui sebagai pertanian yang tidak mengkonsumsi pupuk pabrikan dan obat kimia.  Pemahaman ini diperkuat lagi melalui dengung Program Go-Organic 2010 oleh Departemen Pertanian yang mendefinisikan pertanian organis adalah usaha tani non kimia dan non pestisida. 


Dibuka dengan kalimat manis, ‘sebuah bentuk kemandirian petani’: Pada zaman Orde Baru, petani terpaksa merelakan tanaman organisnya dibabat aparat, mereka harus menanam tanaman dan cara yang ditentukan oleh pemerintah, bibit dan cara tanam ditentukan oleh pemerintah, seragam. Pada era Reformasi, petani bisa menentukan sendiri jenis dan bibit usaha taninya.

 

Maksud baik pemerintah melakukan standardisasi dan sertifikasi bertujuan agar konsumen tidak tertipu, bahwa produk-produk pertanian dimaksud betul-betul dari hasil usaha organis, yakni alamiah, tidak pakai pupuk buatan pabrik, tidak pakai insektisida pabrik.

 

Dalam hal yang sama, Pastor Agatho Elsener OFM Cap. seorang perintis pertanian organis di Tugu Selatan, dan melalui Yayasan Bina Sarana Bakti telah menghasilkan alumni ratusan lulusan yang kemudian menjadi petani organis di berbagai daerah.  Berpendapat bahwa yang benar organis, bukan organik.

 

Kita coba membedakan dua makna kata ini, pertanian organik dimaksud terbatas pada sebagai pertanian ramah lingkungan yang diakui sebagai pertanian yang tidak mengkonsumsi pupuk pabrikan dan obat kimia, pertanian organis dipahami lebih luas, yakni menggambarkan satu unit/kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian yang semua teratur, terarah pada kepentingan bersama, yaitu harmoni.

 

Melanjutkan pendapat pastor Agatho.  Pertanian organis tidak hanya non-kimia dan non-pestisida, bukan pula soal sertifikat.  Pertanian organis menyangkut sikap dan pandangan hidup.  Organisme alam terdiri atas binatang, tumbuhan, hutan dan biotop lainnya.  Semua bisa hidup karena dukungan semua organnya, dan setiap organ bertujuan hanya satu, yakni melayani organisasinya.  Kalau organ melayani dengan baik, organisme makin sehat.  Konsep organis dengan analogi tubuh manusia itu dalam usaha tani organis dikembangkan lewat kesatuan antara unsur-unsur kehidupan, iklim, binatang, dan tumbuhan.  Pertanian organis menyangkut sikap dan pandangan hidup sehingga pertanian organis adalah keniscayaan bagi kelestarian alam.

 

Pertanian organis menjadi berbiaya murah ketika peternakan dan pertanian berjalan bersama sebagai satu kesatuan usaha.  Ada peternakan yang menghasilkan kotoran untuk pupuk, sisa hasil sayuran bisa jadi bahan makanan untuk ternak/binatang.

 

Sementara intensifikasi pertanian sebagai pengembangan dari slogan Revolusi Hijau dalam praktik adalah memperlakukan alam dengan kerakusan besar, mengakibatkan usaha tani rentan terhadap hama dan pergantian iklim.

 

Dari sisi kebijakan niat baik pemerintah melindungi konsumen mengenai standardisasi dan sertifikasi produk pertanian organik, ketika salah satu acuannya adalah harus melalui tes analisa tanah dari lahan yang akan digunakan untuk bertani, bahwa lahan tersebut bersih dari dampak pupuk pabrikan dan obat kimia, padahal menilik lahan pertanian di negeri ini yang telah terperan-serta dalam Revolusi Hijau pada umumnya tidak bersih dari dampak pupuk pabrikan dan obat kimia.

 

Entah berapa puluh tahun waktu yang harus ditempuh untuk mengembalikan lahan pertanian tersebut agar bersih dari dampak pupuk pabrikan dan obat kimia.  Atau membuka lahan perawan.

 

Petani berlahan luas, bermodal besar, berakses mudah, kita sebut saja pengusaha agribisnis.  Bagi mereka, tidak ada keberatan dan tidak beralasan untuk tidak bisa memenuhi salah satu acuan standardisasi dan sertifikasi tersebut.

 

Di sisi lain petani yang justru menjadi ujung tombak untuk mewujudkan kedaulatan pangan (bukan ketahanan pangan) di negeri ini, adalah sosok yang lugu dan setia kepada alam usaha taninya, dengan keterbatasan lahan yang lugu pula dan setia pula pada alam usaha taninya, demikian juga keterbatasan fulus yang lugu dan hanya setia tehadap usaha taninya.  Dipengaruhi dominasi pola pikir yang condong pada kesetiaannya tersebut, menjadi mengarah pada kepasrahan dalam bersikap, kurang memiliki geliat untuk mengembangkan sikap.

 

Dibutuhkan kejelian pemerintah, tidak hanya melindungi konsumen, tapi juga mengeluarkan kebijakan yang melindungi produsen lemah yang nota bene adalah pahlawan-pahlawan kedaulatan pangan dimasa datang, yang kepentingannya untuk mengantisipasi munculnya petani-petani berdasi memanfaatkan kondisi lemah ini dengan mengkondisikan dirinya seolah pembela, padahal justru mempertahankan keadaan produsen lemah ini agar tetap lemah.

 

Kebijakan pemerintah menelurkan sejuta PPL/PPS, adakah sudah dibekali dengan pengetahuan praktis pertanian organik maupun pertanian organis.

 

Adalah menjadi tidak bijaksana ketika pemerintah hanya bertahan pada pemahaman pertanian organik, tanpa menghargai pemahaman lain yang lebih luas tentang pertanian organis.

 

Mengutip Y Wartaya Winangun SJ, pimpinan Kursus Pertanian Taman Tani, (Salatiga, 2005).  Membangun karakter petani yang sukses butuh tiga M, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, Mulai dari saat ini.  Keberhasilan yang besar diawali dari keberhasilan yang kecil-kecil.

 

Menurut Sudaryanto, seorang sarjana pertanian yang menjadi tangan kanan Pastor Agatho.  Membangun pertanian, khususnya bagi petani, harus dimulai dari yang kecil.  Untuk menjadi petani yang sukses, harus dimulai saat ini, yakni menjalankan pertanian berwawasan lingkungan dan pertanian organis dalam praktik.

 

Demikianlah hai petani dari sebuah fragmen entahlah, kami telah berusaha menjawab ke-entahlah-an engkau, mohon ma’af kami telah terlalu lama membiarkan engkau menunggu jawaban.

Mar
7
2008

beijing.jpgOleh: Roy 

Selepas Beijing – Jakarta, pandangan beralih ke Washington – Jakarta
Pemulihan Ekonomi berlangsung segera
Sektor Pertanian menjadi tumpuan utama
Lulusan Pertanian menjadi primadona
Peningkatan produksi pertanian dipompa keras
Berbagai petuah Barat ditelan mentah-mentah
Produk Barat masuk negeri ini, mengalir dengan deras
Pasokanpun dialirkan sampai ke sawah yang basah

Berbagai produk Barat yang sarat bahan kimia menjadi idola
Pembasmi penyakit, fungi, hama, dan smua produk an-organik jadi andalannya
Peningkat produksi panen sampai pascanya
Petani manut tak berdaya

Waktupun bergulir, pola bertani pun beralih pikir
Petani mulai ketergantungan, sedang kita tidak mampu memproduksinya
Lagi-lagi petuah Barat ditelan mentah-mentah
Perangkat untuk memproduksi kebutuhan itu pun dialirkan dengan deras
Era Industri mulai digulirkan sangat perlahan
Bahan untuk memproduksinya harus dialirkan dari Barat
Sumber Daya Alam digali perlahan

Petani mulai terikat bahwa tanpa ramuan itu Panen tidak akan maksimal
Residu bahan kimia sintetispun mulai menyusup ke dalam tanah
Perlahan namun pasti
Siklus mikro orgasnisme dalam bumi kita ini mulai terganggu
O Ow, makronyapun terganggu juga
Ekosistemnya terganggu ?
Apa iya ?

Ekonomi awak kecil tak mampu memperoleh semua bahan ramuan yang sakti itu
Perlahan sebagian petani mulai bertani dengan mengurangi bahkan tanpa bahan ramuan
Produksi menurun perlahan
Petuah Barat lagi-lagi ditelan mentah-mentah.
Petuah Barat lagi-lagi di adopsi mentah-mentah.
Kredit Usaha Tani digulirkan, lagi-lagi petani menjadi sasaran.
Keterikatanpun merembak, terjebaklah awak ?

Sektor Pertanian perlahan menjadi mandul.
Sektor Pertanian tidak lagi menjanjikan.
Sektor Pertanian dengan perlahan ditinggalkan.
Sektor Industri mulai meng-idola.
Petani tak mampu melakukan regenerasi, lantaran keturunannya tak tertarik pada bertani.
Oh.., bukan itu, kata Petani.
Lahannya ? Bahan ramuannya tak terjangkau ? Terlilit kredit ?
Oh.., entahlah, kata Petani

Demikian gambaran sebuah fragmen
Suatu paket teknologikah yang di adopsi dari Barat ?
Petani bilang sih, entahlah

Kami masih ingin bertani, kata Petani
Gimana ya, apa ada jalan keluarnya ? tanya Petani
Ada sih, tapi hanya dalam bentuk perkiraan dan pada skala objek yang sangat kecil, nantilah, di edisi mendatang, atau dari forum pembaca punya buah pikiran.
Kami sangat berharap lho, janji dan JiwaTani-mu kunantikan, kata Petani.

Mar
7
2008

Oleh: Nina Solvia

bunga.jpgTanaman hias merupakan salah satu komoditas pertanian yang tidak kalah pentingnya dengan tanaman pangan maupun tanaman industri. Umumnya tanaman hias yang dikenal adalah tanaman hias berbunga indah, akan tetapi banyak tanaman hias berdaun indah dan berbatang indah. Tidak seperti tanaman pangan dan tanaman industri yang akan bersifat unggul karena disukai rasanya yang enak dan produksinya yang tinggi. Tanaman hias bersifat fasionable, disukai karena keindahannya dan keharuman aromanya. Konsumen tanaman hias beragam tergantung pada selera masing masing. Ada yang menyukai bunga dengan ukuran besar, tapi juga ada yang menyukai ukuran sedang dan kecil. Begitu pula dengan bentuk bunga dan warna bunga yang sangat bervariasi. Jadi kalo konsumen tanaman pangan dan tanaman industri itu umumnya homogen, sedangkan konsumen tanaman hias sangat heterogen.

Ada istilah katakanlah dengan bunga. itu istilah bukan hanya sekedar omongan, cobalah anda kenali tanaman hias, maka anda akan merasa tentram. Dengan mengenal tanaman hias, maka sensiitifitas dan romantis kita akan muncul.

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Banyak genus dan species tanaman hias yang tumbuh di nusantara ini. Kita mengenal beribu-ribu jenis dan kultivar anggrek, ada puluhan bahkan ratusan kultivar anthurium, krisan, mawar, gladiol, anyelir, lili dan lain lain yang didatangkan dari luar negeri dan tumbuh di tanah tercinta ini.

Akhir akhir ini perkembangan tanaman hias semakin meningkat. Tingginya minat masyarakat terhadap kebutuhan keindahan dan kecantikan lingkungan menyebabkan permintaan komoditas ini semakin meningkat. Oleh karena itu perlu usaha pengembangan yang tepat sasaran dan tepat guna agar dapat menunjang hasil yang maksimal.

Banyak pengusaha tanaman hias yang berhasil dan sukses dalam mengembangkan usahanya, tetapi tidak sedikit petani tanaman hias yang masih stagnan dan belum mampu berkembang ke arah yang lebih baik. Hal ini disebabkan kurang informasi mutakhir mengenai teknologi budidaya maupun pemanfaatan produk produk yang bermutu.

Pada saat ini telah banyak dihasilkan produk produk tanaman hias yang bermutu, baik dalam bentuk benih maupun tanaman induk. Begitu pula sudah ada teknologi budidaya mutakhir yang dapat diterapkan pada setiap jenis tanaman yang diusahakan.

Untuk produk produk tertentu harga jual tanaman hias memang relatif mahal, tetapi ada beberapa jenis tanaman hias dengan harga yang dapat dijangkau oleh semua masyarakat. Harga yang tinggi maupun rendah tidak menentukan nilai estetika tanaman tersebut. Yang pasti bunga NOVELTY mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Mar
7
2008

jahe.jpgOleh: Nono Suyatno (anonimous) 

Di balik rasanya yang pedas, jahe mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh manusia. Tak heran bila sejak lama dikenal ada wedang (minuman) jahe, permen jahe, atau bandrek (minuman yang mengandung jahe). Jahe juga banyak digunakan sebagai bumbu untuk berbagai jenis masakan atau kue. Manfaat jahe, berdasar sejumlah penelitian, antara lain:
Merangsang pelepasan hormon adrenalin, memperlebar pembuluh darah, sehingga darah mengalir lebih cepat dan lancar. Tubuh pun menjadi lebih hangat, kerja jantung memompa darah lebih ringan. Akibatnya, tekanan darah menjadi turun.
Jahe mengandung dua enzim pencernaan yang penting. Pertama, protease yang berfungsi memecah protein. Kedua, lipase yang berfungsi memecah lemak. Kedua enzim ini membantu tubuh mencerna dan menyerap makanan. Jahe sekurangnya mengandung 19 komponen bio-aktif yang berguna bagi tubuh. Komponen yang paling utama adalah gingerol yang bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke, dan serangan jantung.
Gingerol diperkirakan juga membantu menurunkan kadar kolesterol. Memblok serotonin, yaitu senyawa kimia pembawa pesan. Senyawa ini menyebabkan perut berkontraksi, sehigga timbul rasa mual. Misalnya pada orang yang mengalami mabuk perjalanan. Jadi, untuk mencegah mabuk perjalanan, ada baiknya minum wedang jahe sebelum bepergian. Caranya: pukul-pukul jahe segar sepanjang 1 ruas jari, masukkan dalam satu gelas air panas. Beri madu secukupnya, lalu minum. Bisa juga menggunakan sepertiga sendok teh jahe bubuk, atau kalau tahan, makan dua kerat jahe mentah.
Membuat lambung menjadi nyaman, dan membantu mengeluarkan angin. Bisa meringankan kram perut saat menstruasi atau kram akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan berlemak.
Membantu tubuh melawan pilek dan flu. Jahe mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh. Jahe merupakan pereda rasa sakit yang alami dan dapat meredakan nyeri
rematik, sakit kepala, dan migren. Caranya, minum wedang jahe 3 kali sehari. Bisa juga minum wedang ronde, mengulum permen jahe, atau menambahkan jahe saat Anda membuat soto, semur, atau rendang.
Sumber: Annonim

Mar
7
2008

Written by www.deptan.go.id   

· Awal perkembangan sumberdaya manusia dimulai dari peran Kebun Raya Bogor yang telah berdiri sejak tahun 1817. Fungsi Kebun Raya yang semula untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang botani tropis kemudian berkembang untuk studi pertanian rakyat bagi bumi putera dan perkebunan milik bangsa Eropa.

· Pada tahun 1876, Kebun Raya membangun Kebun Budidaya Tanaman (Kultuurtuin) di Cikeumeuh Bogor dengan mandat untuk melaksanakan 3 fungsi, yaitu: penelitian, pendidikan, dan penyuluhan. Disamping membangun kebun percobaan dengan fungsi penelitian, juga dibangun kebun-kebun percontohan dan sekolah pertanian sebagai bagian dari fungsi penyuluhan dan pendidikan pertanian.

Dengan berdirinya Departemen Pertanian (Departemen Van Landbouw, 1905) penyelenggaraan pendidikan dan penyuluhan pertanian bagi rakyat pribumi menjadi lebih mantap dan profesional setelah mendapat dukungan dan persetujuan dari Departemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan pada tahun 1900. Secara berturut-turut berkembang cabang pendidikan pertanian, seperti Sekolah Hortikultura (1900), Sekolah Pertanian (1903), Sekolah Dokter Hewan (1907), Culture School (1913), Lanbouw Bedriff School (1922), dan Middlebare Boschbauw School pada tahun 1938.

Setelah Indonesia merdeka, pengembangan SDM pertanian diupayakan lebih serius lagi dibawah pembinaan Kementerian Kemakmuran (1945-1950). Lembaga Kementerian Kemakmuran mengalami reorganisasi menjadi Kementerian Pertanian (1950-1960) dan kemudian menjadi Departemen Pertanian hingga saat ini. Agar penyelenggaraan pengembangan SDM pertanian dapat lebih memenuhi kebutuhan pembangunan pertanian, maka Kementerian/Departemen Pertanian membentuk lembaga pendidikan dan penyuluhan pertanian di tingkat pusat yang langsung berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian.

Pada awalnya kegiatan pendidikan dan latihan di lingkungan Departemen Pertanian diselenggarakan oleh masing-masing unit Eselon I Departemen Pertanian. Keadaan ini menyebabkan terciptanya aparat pendidikan pertanian yang satu sama lain bekerja secara terpisah dan kurang sesuai dengan keperluan pembangunan pertanian.

Dengan adanya Keputusan Menteri Pertanian Nomor 88/Kpts/Org/2/1972 yang merupakan pelaksanaan dari Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1972 menetapkan garis-garis kebijaksanaan pendidikan dalam sektor pertanian sehingga dapat memperbaiki keadaan tersebut. Salah satu kebijaksanaan yang penting dalam Keputusan tersebut adalah ditetapkannya nama Badan Pembinaan Pendidikan dan Latihan Pertanian (BPPLP) sebagai penanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan di lingkungan Departemen Pertanian. Sedangkan pendidikan pertanian itu dilaksanakan melalui sekolah-sekolah pertanian proyeksi baru yang bersifat polivalen di SPMA, SNAKMA dan SUPM Budidaya sebagai satu kelompok Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP).

Sejak tahun 1968-1974 terjadi penggabungan departemen atau sebagian departemen lain menggabungkan kedalam Departemen Pertanian, sehingga susunan organisasi Departemen Pertanian menjadi:

- Menteri Pertanian;

- Sekretaris Jenderal;

- Direktorat Jenderal Pertanian;

- Direktorat Jenderal Kehutanan;

- Direktorat Jenderal Peternakan;

- Direktorat Jenderal Perikanan;

- Direktorat Jenderal Perkebunan;

- BIMAS;

Susunan Organisasi Departemen Pertanian ini berlaku sampai dengan Tahun 1974, kemudian muncul ketetapan baru yaitu Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Organisasi Departemen dan Keputusan Presiden nomor 45 Tahun 1974 tentang Susunan Organisasi Departemen.

Dalam Keputusan Presiden Nomor 45 Tahun 1974 diputuskan bahwa pada Departemen Pertanian dibentuk dua unit eselon I baru, yaitu :

- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian; dan

- Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian.

Dengan demikian Badan Pembinaan Pendidikan dan Latihan Pertanian (BPPLP) barulah menjadi Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian (BPLPP), sejak tahun 1974 dengan salah satu tupoksinya menyelenggarakan penyuluhan pertanian di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dilaksanakan oleh BPLPP.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor OT.210/706/Kpts/9/1983, Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian mempunyai tugas membina dan mengkoordinasikan kegiatan pendidikan, latihan dan penyuluhan pertanian yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Pertanian.

Sesuai dengan perubahan struktur organisasi melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 560/Kpts/OT.210/8/1990, nama Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian berubah menjadi Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian dengan tugas pokok mengkoordinasikan, membina dan melaksanakan pendidikan dan pelatihan pertanian serta merumuskan metodologi penyuluhan berdasarkan kebijaksanaan Menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selanjutnya tugas Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian disempurnakan kembali melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 96/Kpts/OT.210/2/1994, dengan tugas dan fungsi mengkoordinasikan, membina dan melaksanakan pendidikan dan pelatihan pertanian dalam rangka pelaksanaan tugas pokok departemen berdasarkan kebijaksanaan menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan Keputusan Menteri tersebut Badan Diklat Pertanian terdiri dari :

1. Sekretariat Badan Diklat Pertanian;

2. Pusat Pembinaan dan Pendidikan Pertanian;

3. Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai;

4. Pusat Pendidikan dan Latihan Penyuluhan Pertanian dan

Operasionalisasi pelaksanaan kegiatan diklat pertanian dilaksanakan oleh 8 jenis Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Diklat Pertanian dengan jumlah 61 UPT yang terdiri dari :

1. Sekolah Tinggi Perikanan (STP);

2. Akademi Penyuluhan Pertanian (APP);

3. Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP);

4. Balai Penataran dan Latihan Pegawai (BPLP);

5. Balai Latihan Pegawai Pertanian (BLPP);

6. Balai Keterampilan Penangkapan Ikan (BKPI);

7. Balai Pendidikan dan Pelatihan Fungsional Pertanian (BPPFP);

8. Balai Metodologi Informasi Pertanian BMIP), dan

9. Balai Informasi Pertanian (BIP).

 

Mulai tahun 1994/1995, pengelolaan BIP dialihkan kepada Badan Litbang Pertanian.

Perubahan/ penyempurnaan organisasi tersebut merupakan antisipasi pengaruh-pengaruh atas perkembangan program pembangunan pertanian khususnya pembangunan nasional pada umumnya. Diharapkan dengan organisasi yang ada dapat dijadikan suatu perangkat kebijaksanaan dalam pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia, aparatur pemerintahan yang dilaksanakan untuk :

1. meningkatkan penguasaan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian yang berorientasi agrbisnis dan agroindustri; serta

2. meningkatkan penguasaan kualitas pengetahuan keterampilan disertai dengan pembinaan semangat kerja, disiplin, tanggung jawab moral, etika dan mental sehat dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pada tahun 1998 dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1016/Kpts/OT.210/2/1998 Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian dirubah menjadi Badan Pendidikan dan Pelatihan Pertanian. Dengan perubahan tersebut tugas dan fungsi dari Badan menjadi Badan Pendidikan dan Pelatihan Pertanian tugas menyelenggarakan pengkajian dan perumusan rencana pengembangan sumber daya manusia pertanian dan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan pertanian serta pembinaan penyuluhan pertanian dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas departemen berdasarkan kebijaksanaan Menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tersebut, Badan Pendidikan dan Pelatihan Pertanian menyelenggarakan fungsi :

a. pengkajian dan perencanaan pengembangan sumber daya manusia pertanian, dan

b. pembinaan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pelatihan pegawai pertanian,

Dengan berkembangnya tugas-tugas urusan pemerintah maupun pembangunan pertanian, maka kelembagaan Badan Diklat Pertanian juga berkembang dan namanya berubah menjadi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian dan Penyuluhan Pertanian berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 160/Kpts/OT.210/12/2000. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penyuluhan Pertanian mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan Pendayaan sumber daya manusia dan penyuluhan pertanian berdasarkan Menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas tersebut Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penyuluhan Pertanian menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijaksanaan dan perencanaan pengembangan sumber daya manusia dan penyuluhan pertanian;

b. pengkajian dan penyediaan informasi sumber daya manusia dan penyuluhan pertanian;

c. pengelolaan pendidikan dan pelatihan pertanian;

d. evaluasi kebijaksanaan dan pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia dan penyuluhan pertanian;

e. pelaksanaan administrasi badan.

Telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 01/Kpts/OT.210/1/2001 dan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 99/Kpts/OT.210/2/2001 sebagai pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 165 Tahun 2000, maka disempurnakan Organisasi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penyuluhan Pertanian menjadi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian.

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan pendayagunaan sumber daya manusia pertanian.

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam tersebut di atas, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian menyelenggarakan fungsi :

a. Perumusan kebijakan dan perencanaan pengembangan sumber daya manusia pertanian;

b. Pengembangan penyuluhan pertanian;

c. Pembinaan lembaga pendidikan dan pelatihan pertanian;

d. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan pegawai pertanian;

e. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan agribisnis;

f. Pelaksanaan administrasi Badan.Visi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian adalah terwujudnya sumber daya manusia pertanian tangguh dan berkarakter, dalam rangka menumbuhkembangkan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkeadilan, berkelanjutan, dan terdesentralistis.Misi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian adalah memberdayakan dan meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia pertanian dalam rangka landasan pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing berkerakyatan, dan berkelanjutan.

Susunan Organisasi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian terdiri dari:

a. Sekretaris Badan;

b. Pusat Pengkajian Sumber Daya Manusia Pertanian;

c. Pusat Pengembangan Penyuluhan Pertanian;

d. Pusat Pengembangan Pendidikan Pertanian;

e. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Pertanian;

f. Pusat Pengembangan Kewirausahaan Agribisnis.

Kebijaksanaan Strategis Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian:

a. meningkatkan daya saing Sumber Daya Manusia Pertanian;

b. mengoptimalkan fungsi kelembagaan pertanian;

c. membangun sistem pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian;

d. membangun piranti lunak dan piranti keras pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian

Kebijakan Operasional Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian :

1. menyelenggarakan kegiatan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia Pertanian dalam rangka pengembangan sistem dan usaha agribisnis;

2. melaksanakan revitalisasi aparatur dan sistem kelembagaan pertanian berdasarkan tugas pokok dan fungsi serta sesuai dengan peta kewenangan pusat dan daerah;

3. memperkuat mekanisme keterkaitan kelembagaan pertanian yang partisipatif, berkeadilan, berkelanjutan dan terdesentralisasi;

4. mendorong sistem dan usaha agribisnis berbasis pedesaan dengan memacu pemanfaatan teknologi spesifik dan jaringan kerjasama kemitraan antar kelembagaan pertanian.

Tujuan dari pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian adalah meningkatkan kualitas sumber daya pertanian melalui jalur pelayanan pendidikan dan pelatihan pertanian.

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian memiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) yaitu :

I. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP)

STPP merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang bertugas melaksanakan dan mengembangkan program pendidikan profesional D IV dibidang ilmu-ilmu penyuluhan pertanian, dengan sasaran penyuluh pertanian, petugas pertanian dan masyarakat pertanian lainnya atau lulusan Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP). Jumlah STPP ada 6 (enam) yaitu:

1. STPP Bogor

2. STPP Malang

3. STPP Medan

4. STPP Magelang

5. STPP Gowa

6. STPP Manokwari

 

II. Pusat Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (PMPSDMP)

PMPSDMP merupakan Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang terletak di Ciawi Bogor dan mempunyai tugas menyelenggarakan diklat manajemen dan pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian untuk aparat dan petugas lingkup pertanian serta masyarakat pertanian lainnya.

III. Balai Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pertanian

Balai Diklat Pertanian merupakan Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang mempunyai tugas menyelenggarakan diklat keahlian agribisnis dan mekanisasi pertanian untuk aparat dan petugas pertanian berjumlah 7 (tujuh) Balai Diklat, yaitu:

1. Balai Diklat Mekanisasi Pertanian Batang Kaluku, Sulawesi Selatan;

2. Balai Diklat Agribisnis Tanaman Pangan dan Tanaman Obat Ketindan, Malang;

3. Balai Diklat Agribisnis Ternak Potong dan Teknologi Lahan Kering Noelbaki, Kupang;

4. Balai Diklat Agribisnis Perkebunan dan Teknologi Pasang Surut Binuang, Kal-Sel;

5. Balai Diklat Agribisnis Persusuan dan Teknologi Hasil Ternak Batu, Malang;

6. Balai Diklat Agribisnis Hortikultura Kayuambon, Lembang;

7. Balai Diklat Agribisnis Peternakan dan Kesehatan Hewan Cinagara, Bogor.

 

IV. Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP)

Sekolah Pertanian Pembangunan merupakan Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang sekarang telah diserahkan pengelolaannya kepada UPTD Provinsi, saat ini SPP berjumlah 135 yang terdiri dari 85 SPP Negeri dan 50 SPP Swasta.

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian mempunyai Rencana Strategis yang terdiri dari Landasan Operasional dan Strategi Pelaksanaan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian.

Landasan Operasional meliputi Visi, Misi, Kebijaksanaan strategis dan Kebijaksanaan Operasional Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang harus diketahui, dihayati dan selanjutnya diimplementasikan secara operasional di lapangan oleh setiap jajaran yang ada di lingkungan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian baik di Pusat maupun di Daerah.

Untuk itu setiap unit eselon II Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian harus menjabarkan kedalam bentuk program dan kegiatan yang terpadu dengan semangat dan nuansa partisipatif, berkerakyatan, pemberdayaan, berkeadilan dan berkelanjutan serta terdesentralisasi.

Rencana strategis tersebut merupakan suatu tentative action plan empat tahunan bagi unit eselon II yang bersangkutan disamping suatu tentative performance evaluation instrument yang dapat digunakan oleh Kepala Badan maupun unit-unit pengawasan lainnya.

Sedangkan Strategi Pelaksanaan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian meliputi :

1. Kesekretariatan

a. menyusun rencana program dan anggaran pengembangan sumber daya manusia pertanian secara partisipatif, terpadu dan terkoordinasi baik internal maupun eksternal.

b. mengembangkan sistem dan prosedur pelayanan dan pengaturan administrasi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang transparan, efektif dan efisien sesuai dengan perauran dan perundang-undangan yang berlaku.

2. Pengkajian Sumber Daya Manusia Pertanian

a. penyusunan perencanaan sumber daya manusia pertanian;

b. penyusunan perencanaan peningkatan kualitas sumber daya manusia pertanian;

c. penyusunan rancangan pengembangan kesempatan kerja produktif;

d. penyusunan sistem informasi sumber daya manusia pertanian termasuk sistem evaluasi dan monitoring.

3. Pengembangan Penyuluhan Pertanian

a. Internal: melaksanakan penataan sistem dan pengembangan kelembagaan, pengembangan ketenagaan, sistem penyelenggaraan dan pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan pertanian.

b. Eksternal:

1. melakukan desentralisasi penyelenggaraan penyuluhan pertanian dalam rangka otonomi daerah;

2. melalukan koordinasi pembinaan kelembagaan dengan instansi terkait di Pusat maupun di Daerah dalam rangka memperkuat fungsi dan peran kelembagaan penyuluhan pertanian dengan pengembangan wilayah.

 

4. Pengembangan Pendidikan Pertanian

a. Internal: melaksanakan penataan sistem pengembangan kelembagaan, sistem pengembangan ketenagaan, sistem dan metode penyelenggaraan pendidikan serta pengembangan sarana dan prasarana pendidikan pertanian

b. Eksternal: melakukan koordinasi dan kerjasama kemitraan dengan lembaga terkait baik pemerintah maupun swasta dalam rangka pengembangan kerjasama penyelenggaraan pendidikan pertanian berdasarkan prinsip kemitraan kerja sejajar, saling menguntungkan, terbuka, meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan memenuhi ketentuan peraturan perundangan-undangan.

 

5. Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Pertanian

a. Internal: melakukan penataan sistem dan prosedur pengembangan kelembagaan, ketenagaan dan penyelenggaraan diklat pegawai pertanian.

b. Ekternal:

1. melakukan koordinasi penyusunan rencana diklat pegawai pertanian secara partisipatif dan terpadu dengan instansi terkait baik di tingkat Pusat maupun Daerah dalam rangka mendukung pengembangan wilayah dan otonomi daerah;

2. melakukan desentralisasi penyelenggaraan diklat pegawai pertanian dan melakukan penyerahan pengelolaan Balai Diklat secara bertahap kepada pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan fungsi dan peranan Balai Diklat dalam melaksanakan otonomi daerah.

6. Pengembangan Kewirausahaan Agribisnis

a. Internal: melaksanakan penataan sistem pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, standar pengembangan kewirausahaan agribisnis dan penyelenggaraan diklat kewirausahaan agribisnis.

b. Eksternal:

1. melakukan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan instansi terkait dalam rangka mewujudkan perencanaan dan penyelenggaraan program pengembangan kewirausahaan agribinis;

2. mengembangkan kelompok kerja kewirausahaan agribisnis dalam rangka mewujudkan strategi pemberdayaan kader/lembaga, pelopor/penggerak agribisnis yang handal, masyarakat pelaku agribisnis dan proses pembelajaran kewirausahaan yang sesuai dengan kebutuhan dan lokalita spesifik.

 Sumber: www.deptan.go.id/bpsdm/webdiktan05/sejarah_perk_bpsdmp_05.htm

Categories

Archives

Recent Comments

Meta

Links

 

January 2012
M T W T F S S
« Aug    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031